Kamis, 07 Maret 2013

Sepuluh Purnama


“Tahun baru kita bicara lagi ya. Edo mengundang kita. Kamu jangan lama-lama di sini. Bahaya. Punya ongkos pulang, kan?” ada ketergesaan dalam nada suaranya seraya pandangannya diedarkan ke sekeliling ruangan yang semakin menggelap, entah untuk memastikan apa.
“Lah, lama banget, dong? Kamu kenapa panik begitu, sih? Nggak ada yang tahu aku ke sini, kok.” Aku merasa heran melihat kepanikanmu. Tapi sempat sedikit tersinggung dengan pertanyaanmu, semiskin-miskinnya diriku tentu aku sanggup membiayai hidupku, apalagi ini hanya perihal uang transport. Aku melangkah meninggalkan kamu yang sedang terbengong sendiri.
Kakiku bersiap meninggalkan ruangan itu. Sinar mentari sore yang masuk dari celah pintu membuat bayang-bayang tubuhku  memanjang. Dalam hati aku berharap kamu beranjak dari sofa coklat tua itu dan menahan kepergianku.
Langkah berat namun tak membuatku berhenti menapak. Aku masih berharap kamu mengejarku. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, itu hanya menjadi mimpiku semata. Kamu tak mungkin melepaskan egomu untuk berlari dan aku tak mungkin berbalik lagi menatapmu lagi.
Bayangan yang semakin menjulang kini menghilang digantikan gelap malam. Jalan yang remang kini diterangi lampu jalan, aku merenung. Tahun baru itu artinya tahun depan? Sepuluh bulan lagi aku harus menanti? Ah, sanggupkah aku? Pertanyaan demi pertanyaan membuatku melupakan langkah. Aku berhenti di persimpangan.
Kurogoh salah satu saku messenger bag-ku di mana tadi kuletakkan uang yang berhasil kukumpulkan tanpa sepengetahuan orang lain. Kuhitung lagi dengan cermat setiap lembarannya yang kini berada di tanganku. Ongkos untuk pulang.
Pulang adalah jawaban paling realistis yang harus aku terima dan lakukan saat ini.
Rumah? Bisakah tempat tinggal yang menampung aku tidur itu kusebut rumah? Bisakah mereka yang tinggal bersamaku itu kusebut keluarga? Bisakah makanan yang dihidangkan setiap aku lapar itu benar-benar mengenyangkanku? Aku bergelut dengan perasaanku. Aku berharap semua cepat berlalu. Tapi kamu tetap menyuruhku menunggu Tahun Baru hanya untuk sekedar berbicara.
Hatiku perih melihat sorot ketakutan dimatamu tadi. Aku  sebenarnya memahami ketakutan kamu yang seperti itu? Aku tak bisa mengenyahkan pikiranku yang harus bergantung dari keberanian kamu. Kemudian kulanjutkan lagi melangkah menuju halte bus sambil menggenggam uang yang cukup banyak untuk perjalanan pulang ini.
Bus besar berwarna biru muda yang mulai memudar warnanya dengan asap hitam membumbung ke langit itu akan membawaku ke rumah. Sengaja aku memilih transportasi ini karena aku ingin menikmati kebebasan,kebebasanku yang meskipun hanay sedetik.
Di saat jam pulang kantor begini rupanya masih ada bangku kosong yang tersisa untukku. Dengan satu hentakan keras yang dibuat si supir, bis yang kutumpangi pun melaju ke arah selatan.
Mataku terpejam dan ingin melupakan semua pembicaraan bersamamu tadi. Aku hanya berharap rasa yang pernah ada untukmu menguap seperti sifatmu yang pengecut. Tapi tidak bisa,aku tidak bisa menyuruh hatiku untuk membenci kamu. Kurasakan laju bus melambat dan berhenti,berjalan lambat. Aku masih tak membuka mata . Aku tenggelam dalam anganku, beberapa tahun lalu pertemuan kita . Aku melihatmu begitu tertarik memandangku. Aku tidak tersinggung dengan cara kamu memandangku. Aku sempat tergetar hebat melihat senyum menawanmu. Senyum yang bisa aku artikan senyum perkenalan itu. Saat itu aku merasakan getar dan membuatku tersenyum malu. Aku menyadari aku mulai menyukai kamu. Senyummu membuat aku melupakan siapa kamu dan siapa aku sebenarnya.
Kamu menjabat tanganku dan aku merasakan hangat genggamanmu,membuat aku merenggut kecewa saat kau menarik tanganku cepat karena Edo mengingatkan kamu untuk menjaga sikap. Kamu dan Edo, nama sahabatmu, memandangku seolah aku primadona di ruangan itu.
Edo! tersentak aku mengingat nama itu, hanya dia yang mengerti tentang kita. Aku tidak tahu ada apa denganmu kini. Ketakutan yang seharusnya sudah tidak membuatmu seperti itu? Apa sebenarnya yang meliputimu? Aku menahan diri beberapa tahun bertahan mengharapkan senyum dibibirmu tidak pudar.
Dan kedua mata itu yang dulu penuh pemujaan dan menjanjikan perlindungan bagiku atas semua kesulitan hidup yang kutanggung kini seperti menjauh.
Aku berhenti di depan rumah. Lagi aku berfikir apakah ini rumah? Aku berharap kamu membawaku menjauh. Kupandangi rumah mewah yang menjulang indah. Rumah seperti istana, tapi aku seperti terpenjara saja. Aku memandang pantulan wajahku dari cermin kecil. Kusut dan kuyu seperti tak berjiwa.
Kuusapkan bedak dan sedikit lipstik untuk membuatku tampak segar. Aku tak ingin dia tahu aku habis bertemu denganmu. Aku harus memasang senyum palsu untuk mengecohnya. Aku berlatih sebentar. Ah, aku sepertinya layak mendapatkan piala sebagai artis berbakat. Aku melangkah dan membuka pintu. Hati rasanya ingin menjerit. Aku harus memerankan peran ganda lagi.
Aku selalu menghibur hati ini. Tidak lama lagi aku akan pergi. Tahun baru tidak lama,seuluh bulan pasti akan cepat terlewati.
Belum lagi pintu pagar tuntas kudorong, seseorang sudah menumbukkan dirinya padaku. Kedua tangannya berusaha keras dilingkarkan pada pinggangku. Sesungging senyum manis kemudian membingkai wajahnya yang mungil.
Kubalas senyumnya. Ah, cintaku kamu menyambut mama . Kukecup pipi gembilnya yang selalu bersemu merah dan kuelus rambut hitam legamnya yang kini diikat dua. Andai kamu tahu karena dirimulah aku akan berjuang pergi dari sini. Andai kamu tahu penantian panjangku adalah untuk membesakanmu. Aku harus seterus bersabar untuk menunggu waktu.
Di ujung mataku, aku melihat pria yang tersenyum tipis memandangku. Senyum kemenangan. Apakah dia telah menerima laporan dari antek-anteknya tentang pertemuanku. Kamu dan Edo bisakah lebih cepat membebaskan aku dari lelaki penguasa tubuhku ini? Ah, kamu! Ingin menjerit aku melihat senyumnya yang munafik itu.
Kamu membiarkan aku menunggu lagi. Aku hampir menjerit menamparmu tadi. Kalau aku tidak tahu betapa berkuasanya lelaki ini pasti aku akan mengatakan kamu lelaki pengecut.
Aku membalas dengan senyum kaku. Aku tak ingin menyerah berjuang. Cukup lama penantianku, tak akan aku biarkan sia-sia dan menyerah dari kurungan nafsunya. Aku akan membuatnya menyesal telah menjadikan tubuhku ladang uang baginya. Aku akan bertahan dan bertahan untuk berjuang membebaskan diriku.
<>
Tulisan kolaborasi antara Pagita dengan Aini a.k.a @baelovesee dalam rangka menyemarakkan kegiatan #AWeekofCollaboration. Saya mengikuti acara ini pun sudah terlambat, dua hari sebelum tanggal kegiatan berakhir saya baru bergabung. Oleh salah satu penggagasnya, @wulanparker, saya dikenalkan dengan Aini *dadah-dadah kepada yang tinggal di Manado sana*
Bisa dikatakan dalam hitungan satu hari tulisannya sudah kelar. Sayangnya, saya ini banyak “mandek”-nya. Sementara Aini lancar jaya menuliskan setiap kalimat yang menjadi bagiannya. Panjang-panjang lagi.
Maka, demikianlah tulisan di atas itu lahir di bawah tema: penantian.

Senin, 04 Maret 2013

Akhir Penantian


~Ku akan menanti walau penantian panjang. Ku akan setia menunggumu, ku tahu kau hanya… Hanya untukku~
Lagu yang kudengarkan di radio mobil saat berangkat kantor tadi pagi terus terngiang-ngiang ditelingaku. Seperti menyindirku saja. Lagu yang dinyanyikan pesinetron yang baru saja beranjak remaja ini sungguh membuatku ingin menjerit. Meneriakkan kata-kata makian.
Hatiku semakin mengembara ke langit ketujuh, ditambah meeting yang membosankan menambah kegalauan hatiku. Lagi-lagi malam minggu ini menjadi malam minggu yang membosankan. Setumpuk novel misteri selalu menjadi pilihanku untuk bermalas-malasan. Sungguh aku tidak ingin mengingat tentangmu. Kamu tak layak mendapatkan cintaku yang tulus ini. Ah atau aku salah? Apakah aku yang tak layak mengganggu kehidupanmu dan mendapatkan cinta tulusmu?
Aku mengingatmu sebagai sosok yang istimewa sejak tiga tahun yang lalu aku pertama kali mengenalmu. Entah apa yang ada dirimu yang membuatku sejak awal langsung begitu tertarik padamu. Aku tidak dapat memungkiri kalau kau memiliki wajah yang sangat menawan dan tampan. Perawakanmu tinggi walau kau menjadi terlihat kurus karena itu. Jambang halus membingkai rahangmu yang tegas. Kau memang lelaki paling sempurna yang pernah kukenal.
Namun bukan hanya itu saja yang membuatku jatuh tergila-gila padamu. Sikap dan pembawaan dirimu pun sangat aku kagumi. Berbicara dengan mu tak pernah membuatku menjadi bosan dan menjemukan. Kau selalu bisa menjadi lawan bicara yang menyenangkan, bahkan terkadang akulah yang tak dapat mengimbangi dirimu. Debat dan perbedaan pendapat ditengah-tengah obrolan kita pun rasanya jauh lebih menyenangkan. Tak pernah setelahnya menjadi kesal atau menyesal.
Senyumku tak lepas dari bibir ini saat bayangan wajahmu saat berdebat denganku, wajah yang penuh semangat dan sedikit ngotot itu akhirnya malah melemah karena aku akan cemberut karena merasa kalah. Aku merengek manja dan menuntut aku harus memenangkan perdebatan ini. Aku masih ingat sewaktu kita berdua berdebat tentang novel penulis kesayanganku. Kamu mengatakan novel itu datar dan membosankan, tapi aku dengan keras kepalanya berkata novel ini keren dan sangat bagus. Aku tahu sebenarnya dalam hati kecilku mengakui itu semua benar, tapi dasar aku tak mau mendengar.
Ah, aku jatuh cinta sama kamu. Aku menyimpan perasaanku padamu. Aku tak ingin kebersamaan kita membuatmu terbebani. Aku tahu kamu masih merindukan cinta yang lalu, aku pun tahu karena kamu sudah jujur kalau kamu masih berduka dengannya. Aku sedikit cemburu saat kamu membicarakannya.
Aku tersenyum lagi dan suara teguran bos membuatku kembali ke saat sekarang. Sedikit menyesali bayanganmu membuatku kehilangan konsentrasi. Memikirkanmu memang selalu menghabiskan waktuku dan tanpa sadar menyeret pikiranku ke sebuah putaran waktu yang entah dimana.
Selalu saja begitu selama tiga tahun ini. Namun aku tak dapat berbuat apa-apa, aku seperti tak memiliki andil jika sudah berurusan dengan hati dan dirimu. Padahal mungkin saja, bahkan aku hampir merasa yakin kamu pun kini tak sedikitpun mengingatku.
Kamu, ya kamu tak pernah mau lepas dari pikiranku. Sesungguhnya berat buatku hidup dalam bayang-bayang pesonamu, namun aku menyukai saat-saat aku mengingat nyatamu.
Bayanganmu selalu memberikan energi untukku melangkah. Semangatmu membuatku bertahan di kotaku kini. Ah lagi lagi aku mengingat kebaikanmu. Kamu memarahiku saat aku dengan ceroboh meminum cappucino pesananmu. Bukan karena minumanmu yang habis aku minum, tapi karena kamu tau aku akan menderita dengan minuman itu. Tapi aku dengan manjanya tersenyum dan menikmati amarahmu lagi.
Aku ingat tanggal tiga puluh satu januari yang lalu aku mengatakan aku ingin melupakanmu. Aku ingin menjadi amnesia, aku berharap kamu terkejut dengan perkataanku. Tapi kamu hanya menarik napas dan berkata pasrah. Aku ingat kata katamu yang membuat air mata ini jatuh. Ingat dengan jelas apa yang kamu ucapkan. Kamu merelakan aku melupakan kamu. Kamu! Aku ingin memukul dada bidangmu dan memelukmu erat. Bukan itu harapanku. Bukan!
Aku ingin kamu menahanku. Menahan dan memintaku menarik kata-kataku kembali. Aku ingin kamu mendebat perkataanku seperti yang biasa kamu lakukan. Aku ingin kamu tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Nyatanya kamu tak melakukan semua hal itu. Kamu hanya terdiam dan tak berkata apapun. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutmu. Aku benci sikap diammu itu.
Ada apa denganku ini? Mengapa masih saja aku mengingatmu dengan baik. Segala rasa yang aku rasakan ketika itu seolah kembali nyata tiap kali aku mengingatmu. Andai saja kamu pahami, rinduku padamu tak pernah mati. Andai kamu mau sedikit saja membuka hati, mungkin aku akan tetap bertahan hingga kini.
Tak terasa air mata ini jatuh. Kuhapus dengan kasar air mataku. Aku tertawa tertahan, tak ingin orang disekelilingku mengatakan aku tidak waras. Aku tidak pernah menyesali mencintaimu. Tidak pernah menyesali kebersamaan kita. Aku hanya menyesali. Kenapa butuh bertahun tahun kamu melepasku. Kenapa kau biarkan cintaku tumbuh di atas penantian semu itu? Kenapa? Pertanyaan yang tidak mungkin kamu jawab. Penantianku sia sia. Cintaku tumbuh subur tanpa pernah kau petik bunganya. Kenapa kamu biarkan aku terluka terlalu lama? Tidak seharusnya aku menyalahkan kamu akan pilihan ku ini.
Ini semua gara-gara paket yang aku terima di kantorku kemarin sore darimu yang hingga kini belum berani kusentuh untuk kubuka apa isinya. Aku takut untuk membuka. Aku takut jika paket itu berupa undangan atau apapun yang mungkin mengabarkan hari bahagiamu. Rasa-rasanya aku takkan sanggup melihatnya nanti. Tapi jika aku tak membuka dan melihat apa isi paket yang kamu kirimkan itu, aku akan terus menerus seperti ini. Memikirkanmu, mengingatmu, mengenangmu tanpa aku ketahui apa yang sebenarnya terjadi. Sepagian hingga siang ini saja pun pikiranku sudah dibuat berantakan olehmu.
Akan kuberanikan saja diriku membuka paket apa yang sedang ada di hadapanku ini sebenarnya dari pada aku penasaran dan hanya menebak-nebak saja.
Kutimbang beban ini. Paket yang rasa rasanya mustahil dari dirimu kalau tidak membaca nama dan alamat pengirim. Aku tahu karena untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku saja kamu enggan kalau aku tidak merengek dan mengancam mendiamkan kamu selama satu tahun. Kini setelah aku dan kamu berpisah kamu mengirimi aku sebuah paket. Sangat mustahil bagiku mempercayai ini.  Kupandangi saja karena karaguan masih menggelanyut .
Hmm, baiklah tidak akan membuatku terluka apapun ini isinya. Bahkan kalau ini undangan pun aku tinggal melemparkan ke tong sampah saja. Dengan perlahan aku membukanya. Mataku melotot, Aku sudah akan berteriak histeris untunglah aku cepat membungkam mulutku dengan tangan. Sebuah novel! Sebuah novel yang dua tahun lalu sangat ingin kubeli. Syok tidak menyangka paket yang membuatku menjadi kehilangan diriku selama seharian itu ternyata sebuah buku. Tunggu! Ada amlop putih didalamnya. Dadaku berderdetak kencang lagi … Undangan? Ingin langsung aku lemparkan saja amplop itu andai aku tidak membaca kalimat didepannya. “Jangan kamu lempar.” Ah sial! Kamu masih mengingat kebiasaanku.
Kubaca surat itu dengan perlahan. Air mata kali ini jatuh bukan untuk penyesalan. Air mata jatuh karena aku bahagia. Penantianku selama ini tidak sia sia, aku membaca kaliamat yang tertulis dalam suratmu. “Maaf kamu menunggu terlalu lama. Novel ini yang aku kirim sebagai awal memulai segalanya dari awal. Aku tidak tahu apakah kamu membeli novel ini sendiri atau tetap menunggu aku yang membelikan seperti janjimu sewaktu kamu mengancamku. Mengancam marah satu tahun kalau aku tidak membelikanmu.  Nomor telponku tidak pernah berubah. Tolong kabari aku secepatnya.”
Mataku basah dan air mata tetap tak bisa kubendung. Penantianku berakhir, penantian cintaku yang berakhir manis.
Tulisan Kolaborasi bersama Indah Lestari 
A Week of Collaboration, Tema : Penantian

Minggu, 03 Maret 2013

Akhir Sebuah Awal


Waktu itu seperti biasanya Baron dan Wina duduk di kantin usai kuliah. Tak seperti biasanya suasana di antara mereka cukup hening. Sore itu jantung Baron terasa berdetak tak beraturan. Lidahnya terasa kelu.
"Kamu kenapa ron? Kok kayak ga biasanya kamu keliatan grogi gini.Kamu lagi ada masalah?". 

Masalahnya ya kamu Win. Perasaanku ke kamu yang bikin aku grogi gini. Aku tuh sayang kamu Win.

"Win. Sebenarnya ada yang mau aku omongin ke kamu sore ini."
"Aku sayang kamu Wina. Maukah kamu jadi pacarku Win?"
   
"Buset! Berapa kali sih Ron aku bilang? Biarin aja mengalir,jangan dipakasa dong." Ucap Wina sambil memandang Baron. 

Wina bukan tidak suka Baron,hanya saja dia bukan tipe cewek yang suka di paksa dan di tembak secara terang terang-an seperti itu.

Baron memangdang Wina lama. Dia hanya bisa menarik napas. "Win! Lihat aku dong sebagai sosok yang menyukai kamu,jangan sebagai teman lagi bisa ga sih? Kamu kan sudah tau sifatku,aku ga suka lama lama kalau aku suka sama cewek. Aku pasti langsung tembak,kalau kamu ga mau ya aku akan jauhi kamu. " Nah ini deh yang aku ga suka." Keluh Wina lirih.

Perlahan isak tangis keluar dari bibir Wina. Setitik air mata turun mengalir dari sudut matanya.
Mesin waktu di dalam otaknya memutar ke masa lalu.Ingatannya kembali membawanya pada sosok Ario.Sosok lelaki yang telah membuatnya langsung jatuh hati pada pandangan pertama, hingga membuatnya langsung mengiyakan ketika suatu hari Ario berkata kepadanya 

"Win, aku sayang kamu. Kamu mau gak jadi pacarku"

Dan ingatan indah itu perlahan tergantikan oleh sebuah mimpi buruk yang datang seketika. Aryo mengkhianatinya. Aryo selingkuh dengan wanita lain, yang tak lain adalah sahabat Wina sendiri yaitu Rhea.

Sejak kejadian itu, hati Wina seolah tertutup pada lelaki lain. Ia takut lagi untuk memberikan hatinya pada lelaki, yang malah pada akhirnya melukai hati yang dia beri itu. Ia takut untuk mencintai orang lain karena ia takut terlanjur cinta seperti pada Ario, dan malah terluka karenanya.

"Win..Kamu kenapa menangis?"

Suara itu menyadarkan Wina dari lamunan. Baron masih duduk di hadapannya. Menatapnya dalam-dalam.

Baron memeluk Wina. Dia merasa bersalah telah memaksa Wina lagi. 

"Win,aku ga maksa kok." Jangan nangis ya." 
Wina mengusap air matanya. 

"Maaf aku ga sengaja nangis kaya gini sih." 
Wina menghindar dari pelukan Baron.Dia tidak ingin memanfaatkan kebaikan Baron dan membuat Baron mengungkapkan cinta lagi.

Wina tetap merenung dan membiarkan Baron disampingnya. Pikiran Wina menjadi kalut. Dia gadis ceria tapi kalau menyangkut nama Ario dia akan menjadi gadis yang sangat rapuh dan sentimentil. Wina memaksakan senyum agar Baron tidak semakin merasa bersalah. 

"Eh kamu yang bayar minumanku loh."
 Ucapnya...kali ini membuat Baron tersenyum. Nah ini baru Wina yang aku kenal.
Sejujurnya bagi Wina, Baron adalah sosok lelaki yang menarik baginya. Pembawaannya yang hangat selalu membuatnya nyaman tiap kali berada di sampingnya. Dan tanpa dia sadari, mulai tumbuh perasaan sayang di dalam hatinya. Perasaan yang selama ini ia tutupi karena ia terlalu takut untuk menjalaninya. Takut untuk kembali terluka seperti dengan Ario dulu.

"Ron. Kamu ngertiin keadaanku ini ya"

Baron mengangguk. Matanya lekat menatap Wina.

"Udah yuk aku anterin kamu pulang. Udah mau maghrib ni. Ntar kamu dicariin Mama kamu."
"Yuk Ron.."

Wina berdiri dari bangku kantin dan berjalan perlahan menuju ke parkiran motor, diikuti Baron yang berjalan di belakangnya usai membayar minuman yang mereka pesan tadi.

Wina membonceng Baron dan melingkarkan tangannya di pinggang Baron. Angin menerpa wajahnya dan membuatnya menunduk dan menempelkan wajahnya dipunggung Baron. Wina tidak ingin berakir,rasa nyaman yang diberikan Baron tidak ingin digantikan dengan penyesalan yang akan terjadi jika mereka melanjutkan hubungan atas nama cinta.

Baron membiarkan hatinya sakit. Sakit sebenarnya mendapat penolakan Wina. Tapi dia juga tidak ingin melihat Wina terluka. Baron membiarkan Wina bersender dibahunya andai itu bisa menjadikan Wina tetap di sisinya.

  ***

Tiga minggu kemudian

"Baron..kenapa kamu menghindari aku".

Suara Wina membuat Baron tercekat. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Pandangan mata Wina membuat hati Baron merasa takut untuk mengungkapkannya. Tapi...

"Aku sayang kamu Baron. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau kehilangan orang yang aku sayangi."

"Aku mau jadi pacar kamu Baron. Aku mau."

Serentetan kata-kata itu mengalir dari mulut Wina. Mendengarnya, hati Baron bergejolak. Rasa bersalah sekaligus bahagia muncul bersamaan.

"Aku juga sayang kamu Win."
Bibir Baron terasa bergetar ketika mengucapnya.

Hati kecil berdebar. Rasa bersalah itu kian membesar. Rasa bersalah telah mengkhianati Dita, cewek yang menjadi pacarnya sejak seminggu yang lalu. Dan rasa bersalah kepada Wina, karena akan membuatnya sakit lagi seperti yang Ario pernah lakukan kepadanya.


Tulisan ini adalah hasil kolaborasi (@rbennymurdhani) dengan @baelovesee dan diikutsertakan dalam proyek #AWeekOfCollaboration

Jumat, 01 Maret 2013

Rasa


Telah hampir setahun mereka tak berhubungan komunikasi. Jarak dan waktu tak pernah ingin mendekatkan mereka, namun rupanya semesta bertindak beda. Ia memintalkan lagi benang waktu dengan jarak secara bersama.
Sebuah kabar yang Raina dapatkan dari sahabat lamanya tentang Rama membuatnya terus berpikir keras. Entah apa sebenarnya yang dipikirkannya karena ia pun tak mengetahuinya. Hanya saja, setelah beberapa hari Raina menerima kabar itu perasaannya seperti menjadi tidak menentu. Ada getaran yang tak dapat ia jelaskan pada orang lain, pun pada dirinya sendiri. Ada ketakutan yang tak ia mengerti perihal keberadaan Rama di kota ini kembali.
Beberapa waktu lalu perasaannya Raina tidaklah sekalut sekarang. Berapa kali matanya melirik jam yang melingkari tangan mungilnya. Waktu seakan berjalan lambat tapi tak mau berhenti seperti harapan Raina. Malam ini Raina akan melihat Rama, melihat wajah yang hanya bisa dilihat dilayar laptopnya dan hanya bisa dipandangin setiap malam dalam keadaan sepi dan sunyi. Keheningan malam yang selalu menemani Raina yang bergejolak dalam asa.
Raina berdiri dan memandang sekitar, semua teman asik pada dunianya sendiri sok sibuk dengan pekerjaan. Raina mengambil dompet dan melangkah menuju kantin. Dipesannya jus semangka kesukaannya dan meminumnya pelan. Air bening jatuh melewati pipi mulusnya tanpa sempat Raina tahan. Isakan lembut lolos dari tenggorokannya juga tak mampu ia tahan. Rama membuat semua kesedihan Raina menyeruak lagi.
Yang membuatnya tak dapat mengendalikan perasaan dan airmatanya juga karena sebaris pesan yang diterimanya pagi tadi menyusul kabar yang disampaikan sahabatnya semalam. Rama yang mengirimkan pesan tersebut. Ia mengabarkan sedang berada di kota ini dan menginap di salah satu hotel terkenal di tengah kota. Raina tak mengerti mengapa Rama melakukan tindakan itu. Setahun yang lalu berjanji tak akan merajut apapun malah kini Rama yang menyambungnya kembali.
Keinginan menemui Rama begitu besar sama besar dengan penolakan di kepalanya. Wajah Aldi suaminya dan Masya putri kecilnya bergantian muncul di pikirannya. Hampir gila ia memikirkan semua ini.
Raina bimbang dan ragu, tak ingin mengatakan kepada suaminya perihal kedatangan Rama. Tapi bagaimana janjinya dihadapan Tuhan bahwa tidak akan ada dusta diantara mereka dan tidak ada kebohongan lagi yang mewarnai kehidupan rumah tangganya. Rama sangat jelas memintanya dan menegaskan maksudnya. Bisakah ini dikatakan ancaman halus? Raina menghabiskan minumannya. Masih tak ingin beranjak dari duduknya. Hanya bisa memejamkan mata. Lagi isakan demi isakan lolos tak bisa dibendungnya.
Bayangan wajah polos Masya menambah kepedihan hati Raina. Anakku tolong ibumu ini, harus bagaimana menghadapi masa lalu ini. Raina menghapus air mata dan meletakkan tangannya dimeja. Mampukan ia dan Rama menyelesaiakan malam ini?
Semakin Raina memikirkan keadaan ini sakit di kepalanya semakin bertambah. Seharusnya memang ia dapat memutuskan apa yang akan dikerjakannya dengan mudah. Sudah jelas ia dan Rama tak akan berakhir kemana-mana. Apapun hubungan yang ada diantara mereka semestinya memang tidak perlu ada lagi. Namun kenyataannya, ia tak mampu memilih apa yang diinginkannya.
Sejujurnya ia masih menyimpan semua perasaan entah apa namanya itu kepada Rama. Sebuah perasaan yang ia sembunyikan dari siapa dan apapun juga. Sebuah hasrat yang harus ia kubur rapat di ruang paling dalam hatinya. Ia merasai semua yang ada untuk Rama dalam keheningan yang panjanh, tanpa suara tanpa kata.
Riuh suara di sekelilingnya tak membuatnya terganggu, ia tetap saja terdiam membisu dengan isak tangis tertahan. Raina mengingat benar pertemuan terakhirnya dengan Rama setahun yang lalu di kota dimana Rama menetap. Raina mengabarkan keberadaannya kepada Rama dan lalu mereka berjanji untuk bertemu. Disebuah sore menjelang senja mereka bertemu. Bukan di tempat dimana Raina menginap, tetapi di kediaman Rama di timur kota.
Rama kala itu mengantar jemput Raina dari perjalanan dinasnya yang kemudian membawanya ke tempatnya. Raina sudah tak memikirkan apapun juga karena hatinya terlalu sibuk menari merayakan pertemuan dengan Rama. Ia membenamkan dirinya dalam pelukan pria itu. Sekedar menitipkan segala rasa rindu yang tak tertahan yang mungkin memang hanya mereka yang tahu.
Manisnya madu memang tidak memabukkan, tetapi manisnya madu membuat Raina dan Rama melupakan segalanya. Suasana sepi dan syahdu mengantarkan kedua sejoli diambang kehancuran. Tak ada penyesalan. Tak ada kata takut dosa mereka tersenyum saling pandang. Raina tak beranjak dari sisi Rama sepanjang malam itu. Rama memeluknya erat dan berbisik semua indah. Benar semua indah pada awalnya. Rama selalu melimpahkan kasihnya. Tapi mereka lupa, dosa yang mereka buat tak bisa mereka sembunyikan lagi. Raina menangis dipelukan Rama. Satu tahun lalu, namun rasa pelukan Rama membuat Raina bergetar.
Raina takut pertemuan sekarang mengoyakkan pertahanan hatinya. Kerinduan dan sakit hati tak bisa dibedakan lagi. Aldi suaminya yang penuh kasih tak bisa menggantikan kekosongan hatinya. Benar… Setiap malam Raina masih memandangi foto Rama dengan sangat hati-hati, dia tak ingin membuat suaminya sedih.
Namun kali ini harus mengambil keputusan yang benar baik untuk dirinya, keluarganya dan juga Rama. Raina hanya tak menginginkan hal yang menyakitkan untuk siapapun. Ia sudah terlalu lelah memainkan hatinya.
Dengan langkah gontai Raina menyeret kakinya menuju toilet. Setelah merapikan dandanannya Raina menuju ke mejanya. Aldi menelponnya berkali-kali, tumben ini. Raina mengacuhkan telpon dari suaminya dan memberikan kabar kalau tidak bisa diganggu dulu dan akan pulang malam. Setelah meletakkan handphonenya Raina membereskan mejanya. Ah ternyata kelamaan melamun dan menangis sudah menghabiskan waktunya. Tak ingin berkutat dengan kemacetan yang semakin menggila, Raina menuju hotel tempat Rama menginap.
Raina mengetuk pintu kamar Rama dan menunggu dengan hati berdebar. Rama berdiri memandangnya. Raina mengercapkan mata dan mendapati dirinya dipeluk erat Rama. Raina masih mematung dan membiarkan Rama menghelanya masuk, bahkan ia masih terdiam mematung saat Rama menciumnya. Suara pintu yang diketuk membuat Rama mengerutu karena kesenangannya terganggu. Matanya melotot berdiri Aldi yang menggendong anaknya yang tertidur. Raina tersentak mendengar suara Aldi, tidak ada kemarahan hanya kepedihan.
Hatinya tersayat mendengar suara Aldi yang bergetar.
“Raina tidakkah cintaku cukup untukmu? Apakah cintaku tak cukup membahagiakanmu?” Raina menunduk, Sakit hatinya mendengar Aldi berkata seperti itu.
Bukankah satu tahun ini hidupnya bahagia? Bukankah cinta Aldi telah mengisi kekosongan hatinya yang ditinggal Rama? Raina masih terdiam. Keheningan mencekam, semua terdiam.
Mungkin memang ini saatnya ia memutuskan yang benar. Toh kedatangannya ke kamar ini bukan untuk memenuhi undangan Rama. Kedatangannya yang sesungguhnya adalah untuk memberitahu kepada Rama bahwa ia ingin menyudahi segalanya. Bahwa apa yang terjadi pada dahulu adalah kesalahan fatal. Dan kini ia tak akan mempertaruhkan lagi keutuhan keluarga kecilnya. Ia akan memilih Aldi dan Masya yang merupakan masa depannya. Bukan Rama yang adalah masa lalunya.
Rama terkejut dengan keputusan yang diambil Raina. Ia tak menyangka bahwa kedatangannya ke kota ini yang sekaligus untuk menemui cintanya kembali ternyata berakhir dengan cara seperti ini. Keheningan kembali menyeruak di hati masing-masing.
Tulisan Kolaborasi  Aini ( @baelovesee ) dan Indah Lestari
A Week of Collaboration, Theme : HENING

Hadiah Kejutan


Akhirnya, setelah berhari-hari Prama melakukan perjalanan menggunakan berbagai moda transportasi; kereta, kapal feri, dan bis sampai juga ia di kota tujuannya. Kali ini Prama ingin menunaikan janjinya kepada seseorang yang sudah lama ia nantikan. Seorang gadis cantik berwajah sendu dan ayu.
Perjalanan panjang dan melelahkan sedikitpun tak membuatnya menahan langkah untuk bertemu dan memberikan kejutan kepada gadis itu. Dalam benaknya, Prama melihat kebahagiaan dan suka cita yang akan tampak dari wajah cantiknya. Tak sabar sekali ia ingin segera meletakkan kedua kakinya dihadapan sang gadis.
Sudah lima tahun Prama meninggalkan kampung halamannya tapi kota ini rupanya tak mengikuti jejak Prama yang kini sudah moderen, kampungnya masih sepi dan asri. Matanya memandang kesegala penjuru, bibirnya tak berhenti tersenyum. Berbagai sekenario telah ia buat dan terpatri dibenaknya. Ah membayangkan pertemuan itu saja membuat hati Prama berbunga bunga dan kupu-kupu yang berterbangan di halaman para tetangga pun tak bisa mengalahkan kebahagiaan Prama.
Dikejahuan Prama melihat seorang gadis yang sedang menyapu halaman, wajahnya mendongak dan terkejut. Prama melihatnya membekap mulut sebelum berteriak kencang. “Mak abang pulang maaak.”
Gadis itu berlari ke dalam rumah sambil terus menyerukan kebahagiaan. Prama lagi-lagi tersenyum melihatnya. Bahagia dan senang luar biasa melihat tingkah laku gadis cantik itu. Ya, memang sudah lama sekali ia tak melihat segala keceriaan yang berada di balik rumah ini. Lima tahun yang lalu saat ia meninggalkan kota kecilnya gadis itu masih begitu kecil. Sungguh, Prama begitu sangat merindukan kealamian alam dan sikap di kampung halamannya ini. Waktu yang dipikirnya hanya sesaat, nyatanya terlampau lama dirasa.
Kealamian kampungnya memang menggoda iman, dapat dipastikan orang kota siap mengeluarkan kocek lebih hanya untuk mencari ketenangan di kampung ini. Prama berhenti menunggu kejutan apa yang akan dia temukan. Ekspresi apa yang akan ditampilkan gadis itu. Terlalu lama janji yang sudah diucapkan Prama. Prama menunggu, semenit dua menit tiga menit berlalu. Semakin lama waktu berdetak semakin lama Prama menunggu. Bibirnya tetap mengeluarkan senyum, rindu yang terpancar harus dia tahan. Dilihatnya perempuan tua terhuyung huyung menghampirinya sambil mengajungkan kemoceng.
Prama menunggu dengan sabar. Bahkan ketika kemoceng mendarat ditubuhnya. Lengan dan kaki direlakan dengan suka rela untuk menerima sabetan kemoceng. Sakit tidak terasa toh badannya kini bukan lagi kerempeng seperti dulu. Sesudah puas melakukan kekerasan perempuan tua itu mengelap matanya yang basah dan mematung. Senyumnya pecah dan tawa keduanya tak bisa ditahan lagi. Prama memeluk wanita tua itu dan matanya melihat seorang gadis dibalik pintu.
Gadis itu, adik perempuan satu-satunya Prama hanya memandangi mereka berdua. Ada titik-titik air yang mengalir jatuh dari kedua matanya terus membasahi pipinya yang bulat dan tak bernoda itu. Namun lengkung garis sabit di bibirnya begitu merekah, terlihat begitu bahagia. Abang yang dahulu ia tangisi kepergiannya kini kembali datang lagi. Rindu ingin dimanja dan disayang oleh Abang yang menjadi pengganti Bapak begitu besar ia rasakan. Ia ingin merasakan dilindungi di usianya yang sudah remaja ini.
Prama menganggukan kepala memberi tanda agar Andini ikut masuk ke dalam lingkaran pelukan Abang dan Emaknya. Ia ingin membagi rasa rindu ini bersama-sama mereka lagi. Ia ingin Andini ikut menikmati tawa yang sekarang kembali mereka punya.
Andini malu-malu tapi tak menampik undangan abangnya, dia berlari dan memeluk abang dan emaknya.
Bibirnya tak tahan untuk berujar. “Abang tidak lupa janji abang kan?” Prama melepaskan pelukan dan menepuk tas ransel yang disandangnya.
“Abang tidak akan pernah lupa janji abang. Meskipun abang tidak yakin kamu masih menyukai kejutan ini.” Prama tertawa melihat bibir Andini yang cemberut.
“Ayolah mana kejutan yang abang janjikan? Tak sabar hati ini bang.” Andini yang tadi malu pun sudah mengobrol manja. Prama semakin tertawa .
Dilepaskannya pelukan mereka berdua, Prama kemudian menurunkan tas ransel yang ada di punggungnya. Baru sekarang terasa berat beban dari tasnya itu. Rasa pegal dan sakit selama beberapa hari di perjalanan baru kini ia rasakan, tapi tak membuatnya merasa kesakitan. Dibukanya tas ransel yang tampak sangat penuh itu. Tangannya berusaha meraih barang yang berada di bagian bawah tasnya. Sebuah kotak persegi panjang terbungkus kertas pembungkus kado warna-warni sudah berhasil ia keluarkan dari dalam tas. Tanpa menunggu apa-apa lagi langsung ia serahkan kepada adiknya yang sudah sangat tak sabar tersebut.
Andini menerima bungkusan itu, wajahnya mengernyit. Bungkusa ini pasti sebuah boneka yang cantik itu, tapi Andini lebih memilih hadiah yang dijanjikan abangnya. Prama tertawa melihat wajah adiknya.
“Bukalah dulu. Kejutan yang abang janjikan ada di dalamnya, plus bonus hadiah yang kamu minta.” Andini tersenyum dan tangannya mulai melepas perekat dengan hati-hati. Andini tak ingin merobek kertas pembungkusnya, akan disimpannya juga karena ini pemberian abangnya.
Sebuah boneka lucu yang jauh berbeda dari yang ia minta dulu terlihat dari dalam kotak membuat Andini tersenyum, matanya kembali mengintip dalam kotak. Ah ini dia, ucapnya sambil melirik abangnya. Prama menutup muka dan menahan tawa. Andini menjerit dan memeluk abangnya.
Sebuah gelang tangan yang terbuat dari bahan plastik yang dulu pernah ia perebutkan bersama kawannya. Saat itu Andini ingin sekali memiliki gelang yang dipunyai kawan bermainnya namun karena ketidakmampuan emak untuk membeli membuatnya tak bisa memiliki.
Prama sebagai Abang kemudian menjanjikan akan membelikan gelang tersebut padanya. Namun kali bukan hanya gelang plastik yang Prama bawakan, namun juga gelang emas yang cantik sebagai kejutan untuk adiknya itu. Prama menahan tawa, Andini pun juga tak bisa menahan tawa. Emak yang menangis diam-diam pun ikut tertawa bahagia melihat kebahagiaan kedua anaknya itu.
Tulisan Kolaborasi dengan @i_lestari_pm Indah Lestari
A Week of Collaboration, Theme : Tawa